Saladin The Great Warrior of Islam

Saladin The Great Warrior of Islam - selamat datang sahabat winamp, Pada Artikel kali ini dengan judul Saladin The Great Warrior of Islam, kami telah mempersiapkan artikel dengan baik untuk anda baca dan bisa diambil informasi didalamnya. semoga isi postingan Artikel History, yang kami tulis ini dmudah dipahami , dan selamat membaca.

Judul : Saladin The Great Warrior of Islam
link : Saladin The Great Warrior of Islam

Baca juga


Saladin The Great Warrior of Islam



Shalahuddin Al-Ayyubi atau saladin (sebutan dari orang-orang eropa) adalah keturunan suku Kurdi.Ayah beliau Najmuddin Ayyub dan paman beliau Asaduddin Syirkuh meninggalkan kampung halamannya dan pindah ke daerah Tikrit Irak. Shalahuddin lahir di benteng Tikrit Irak tahun 532 Hijriyah atau 1137 Masehi,Saat itu ayahnya ditunjuk sebagai penguasa seljuk di irak,ayah dan pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek atau Lebanon tahun 534 Hijriyah atau 1139 Masehi,

Najmuddin Ayyub Beliau diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi tangan kanan Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. dan kemudian Beliau melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama 10 tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin Beliau diangkat menjadi seorang penasehat.

Di sanalah Beliau mendapatkan posisi yang sulit mempertahankan Mesir melawan serangan Kerajaan Latin yerusalem di bawah pimpinan Amalrik I. Tidak ada seorangpun yang menyangka Beliau bisa bertahan lama di Mesir yang pada saat itu banyak mengalami perubahan pemerintahan karena silsilah panjang anak khalifah mendapat perlawanan dari penasehatnya. Sebagai pemimpin dari prajurit asing Syria, Beliau juga tidak memiliki kontrol dari Prajurit Syiah Mesir saat itu, yang dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui atau seorang Khalifah yang lemah bernama Al-Adid.

Ketika sang Khalifah meninggal bulan September 1171, Shalahuddin mendapat ditujuk oleh Imam Al-Mustadi dari kaum Sunni dan khalifah Abbasid di Baghdad, saat upacara sebelum Shalat Jumat, dan akhirnya kekuasaan dari keturunan khalifah yang lama diturunkan dan mengangkat Shalahuddin menjadi penguasa Mesir, tetapi secara resmi bertindak sebagai wakil dari Nuruddin, yang sesuai dengan adat kebiasaan para Khalifah dari Abbasid. Shalahuddin merombak perekonomian Mesir, mengatur ulang kekuatan militer, dan mengikuti nasihat ayahnya, menghindari konflik apapun dengan Nuruddin, tuannya yang resmi, sesudah Beliau menjadi pemimpin asli Mesir. Beliau menunggu sampai Nuruddin wafat sebelum memulai penyerangan ke yerusalem,dengan menyatukan seluruh kekuatan di mesir.

Dengan wafatnya Nuruddin pada 1174 Masehi Beliau menerima gelar Sultan di Mesir. Disana Beliau memproklamasikan kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan mendirikan dinasti Ayyubid dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Beliau memperlebar wilayah ke sebelah barat di maghreb, dan ketika pamannya mendapat tugas ke Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fatimid, Beliau lalu melanjutkan ke Laut Merah untuk menaklukan Yaman. Beliau juga disebut waliullah yang artinya teman Allah bagi kaum muslim Sunni.

Tahun 559 sampai 564 Hijriyah atau 1164 sampai 1168 Masehi.pamannya diangkat menjadi Perdana Menteri Khilafah Fathimiyah. Setelah pamannya wafat, jabatan Perdana Menteri dipercayakan Khalifah kepada Shalahuddin Al-Ayyubi.

Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil meredam serangan Tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium pada Perang Salib kedua di Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 Hijriyah atau 1171 Masehi pada bulan september. Setelah khalifah Fathimiyah yang terakhir Al-'Adid wafat maka kekuasaan sepenuhnya jatuh di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 Hijriyah atau 1174 Masehi, Kemudian Damaskus diwariskan kepada puteranya yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi seorang wali.saat itulah terjadi perebutan kekuasaan diantara keturunan Nuruddin dan akhirnya wilayahnya menjadi terpecah-pecah. Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan situasi, tetapi ia mendapat perlawanan sengit dari para pengikut Nuruddin yang tidak ingin bersatu.

Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi melawannya dan menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 Hijriyah atau 1176 Masehi dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mousul, Irak bagian utara.


Demikianlah Artikel Saladin The Great Warrior of Islam

Sekian artikel Saladin The Great Warrior of Islam kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat, Baca artikel kami yang lain,share jika bermanfaat dan sering seringlah mengunjungi blog kami, Terima kasih.

Anda sekarang membaca artikel Saladin The Great Warrior of Islam dengan alamat link https://www.winamp.me/2019/12/saladin-great-warrior-of-islam.html

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Saladin The Great Warrior of Islam"

Posting Komentar